Jurnal PERLAKUAN PEMANASAN SARANG BURUNG WALET DENGAN SUHU 100°C SELAMA SATU JAM SESUAI PERSYARATAN KANADA
Julia Rosmaya Riasari1, Azis Boing Sitanggang2, M. Holdun Taurizi3, Apris Beniawan1, Nurul Dwi Handayani1, Mazdani Ulfah Daulay1, Lylya Syamsi1, Rita Sari Dewi1, Sri Idealti Purba1, Umar Suryanaga1, Hajar Cahya Utami1, Muhammad Hanif Nurdiansyah1, Surati1, Annisa Salsabilla1, dan Harris Partahian Silitonga1
Abstrak
Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, Badan
Karantina Indonesia, Bekasi Jawa Barat, Indonesia; IPB University, Bogor, Jawa
Barat, Indonesia; PT. Mitra Usaha Presisi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Salah satu Negara yang banyak mengimpor sarang burung walet (SBW) dari Indonesia adalah Kanada. Persyaratan ekspor sarang burung walet ke Kanada mengacu pada import procedure edible bird’s nest (other than cooked mcanned commercially sterile) yang diterbitkan oleh Canadian Food and Inspection Agency (CFIA). Salah satu syaratnya adalah produk SBW dipanaskan dengan suhu minimum 100oC dengan waktu minimum 1 jam. Kajian terkait pengaruh pemanasan sarang burung walet dengan suhu 100°C selama 1 jam tersebut, belum ada di Indonesia. Tujuan dari uji terap ini adalah untuk menguji teknik perlakuan pemanasan sarang burung walet dengan suhu 100°C selama 1 jam sesuai persyaratan Kanada, yang tidak mempengaruhi kualitas SBW. Serta membandingkan perlakuan pemanasan nSBW sesuai persyaratan Kanada dengan persyaratan dari World Organization of Animal Health (WOAH). Diharapkan hasil dari uji terap ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk bernegosiasi dengan Kanada, terkait ekspor SBW. Sampel yang digunakan adalah sarang burung walet bersih yang belum dilakukan pemanasan asal Pulau Sumatera. Sampel SBW dibagi empat, sampel pertama sebagai kontrol tanpa perlakuan; sampel kedua diberi perlakuan 1 dengan dipanaskan pada suhu 70oC selama 3,5 detik; sampel ketiga diberi perlakuan 2 dengan dipanaskan pada suhu 100oC selama 1 menit; dan sampel keempat diberi perlakuan 3 dengan dipanaska pada suhu 100oC selama 1 jam. Pengujian asam sialat menggunakan metode spektrofotometri, pengujian fisikokimiawi meliputi kadar air, pH, Water Holding Capacity (WHC), dan. Water Absorption Index (WAI). Dilakukan spike Salmonella spp. pada sampel kontrol dan perlakuan, kemudian dilakukan pengujian mikrobiologis terhadap keberadaan Salmonella spp. Selain itu dilakukan uji atribut sensori, meliputi, warna, rasa, aroma, dan tekstur menggunakan panelis. Hasilnya adalah perlakuan pemanasan sarang burung walet (SBW) dengan suhu 100°C selama satu jam mengubah denaturasi protein, sehingga mengubah sifat fungsional dari SBW. Perlakuan ini juga menurunkan kapasitas daya kembang hingga 50%, serta memberi pengaruh signifikan terhadap sifat sensori dan fisikokimia produk SBW, yang meliputi warna, rasa, aroma, dan tekstur. Perlakuan pemanasan sarang burung walet dengan suhu 100°C selama satu jam memberikan hasil yang mempengaruhi kualitas SBW, sedangkan pemanasan SBW sesuai dengan persyaratan dari World Organisation for Animal Health (WOAH), yaitu pemanasan pada suhu 70 °C selama 3,5 detik, tidak
mempengaruhi kualitas SBW. Uji terap ini merupakan kajian awal yang melaporkan pengaruh pemanasan suhu 100°C selama satu jam pada SBW. Perlakuan pemanasan sarang burung walet dengan suhu 100°C selama satu jam tidak direkomendasikan untuk proses perlakuan ekspor SBW, karena mempengaruhi kualitas SBW.
Kata Kunci: sarang burung walet, pemanasan, asam sialat.